Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur yang
cukup populer di tengah masyarakat Indonesia, selain Jenis jamur lainnya
seperti jamur merang, jamur kuping dan jamur shitake. Pada umumnya jamur tiram
dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun sebagian orang menjalankan bisnis olahan jamur tiram misalnya
berbentukkeripik jamur tiram
dan bentuk lain. Jamur tiram adalah jenis jamur kayu yang memiliki
kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu
lainnya. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fospor, besi, thiamin
dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur
tiram mengandung 18 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia
dan tidak mengandung kolesterol
Budidaya jamur tiram memiliki beberapa keunggulan
dan kemudahan dalam proses budidayanya sehingga dapat dikelola sebagai
usaha sampingan ataupun usaha ekonomis skala kecil, menengah dan besar
(Industri). Negara-negara yang telah mengembangkan budidaya jamur tiram
sebagai agrobisnis andalan dan unggulan adalah Cina, belanda, Spanyol,
Prancis, Belgia dan Thailand. Negara-negara tersebut trermasuk produsen
jamur terbesar di dunia.
Jika anda tertarik menekuni usaha budidaya jamur tiram
ini, hal penting yang harus dipenuhi adalah menciptakan dan menjaga
kondisi lingkungan pemeliharaan (cultivation) yang memenuhi syarat
pertumbuhan jamur tiram. Hal lain yang penting adalah menjaga lingkungan
pertumbuhan jamur tiram terbebas dari mikroba atau tumbuhan pengganggu
lainnya. Tidak jarang pembudidaya jamur tiram mendapati baglog(kantong untuk media jamur tiram)
ditumbuhi tumbuhan lain selain jamur tiram, hal ini disebabkan proses
sterilisasi yang kurang baik dan lingkungan yang tidak kondusif.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk melakukan budidaya jamur
tiram ini, tahapan pemeliharaan atau penanaman jamur tiram meliputi persiapan sarana produksi dan tahapan budidaya jamur tiram.
Tahapan ini merupakan proses budidaya jamur tiram dari mulai pembuatan
media sampai proses pemanenan jamur tiram. Jika anda tidak ingin repot
menyemai benih, anda bisa membeli baglog yang sudah siap dengan benih
jamur tiram yang sudah siap dibudidayakan.
Persiapan Budidaya Jamur Tiram
Bangunan/Ruangan Budidaya Jamur Tiram
Pada dasarnya bangunan bisa memanfaatkan ruangan yang ada dalm rumah,
biasanya bangunan untuk budidaya Jamur Tiram bangunan jamur terdiri
dari beberapa ruangan, diantaranya: 1. Ruang persiapan
Ruang persiapan adalah ruangan yang berfungsi untuk melakukan kegiatan Pengayakan, Pencampuran, Pewadahan, dan Sterilisasi. 2. Ruang Inokulasi
Ruang Inokulasi adalah ruangan yang berfungsi untuk menanam bibit pada
media tanam, ruang ini harus mudah dibersihkan, tidak banyak ventilasi
untuk menghindari kontaminasi (adanya mikroba lain). 3. Ruang Inkubasi
Ruangan ini memiliki fungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media
tanam yang sudah di inokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada
suhu 22 – 28 derajat C dengan kelembaban 60% – 80%, Ruangan ini
dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam
kantong plastic (baglog) yang sudah di inokulasi. 4.Ruang Penanaman
Ruang penanaman (growing) digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur.
Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat
penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur
suhu udara pada kondisi optimal 16 – 22 derajat C dengan kelembaban 80 –
90%.
Peralatan Dan Bahan Budidaya Jamur Tiram
Peralatan yang digunakan pada budidaya jamur
diantaranya, Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak
dorong, sendok bibit, centong. Bahan-bahan yang digunakan dalam budidaya jamur tiram
adalah Serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO3), gips (CaSO4), tepung
jagung (biji-bijan), glukosa, kantong plastik, karet, kapas, cincin
plastik.
Proses dan Teknik Budidaya Jamur Tiram
Dalam melaksanakan Budidaya Jamur Tiram ada beberapa proses dan kegiatan yang dilaksanakan antara lain: 1. Persiapan Bahan
Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa. 2. Pengayakan
Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat
keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan
miselia kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka
serbuk gergaji perlu di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak
pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker karena dalam
serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir 3. Pencampuran
Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan
serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 – 60 % atau
bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal
ini menandakan kadar air sudah cukup. 4. Pengomposan
Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara
membumbun campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastic 5. Pembungkusan (Pembuatan Baglog)
Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang
dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam
plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau
menggunakan filler (alat pemadat) kemudian disimpan. 6. Sterilisasi
Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang
bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang
dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan
pada suhu 90 – 100 derajat C selama 12 jam. 7. Inokulasi (Pemberian Bibit)
Inokulasi adalah kegiatan memasukan bibit jamur ke dalam media jamur
yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah
sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan
mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan
kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit Jamur Tiram
yang baik yaitu:
- Varitas unggul
- Umur bibit optimal 45 – 60 hari
- Warna bibit merata
- Tidak terkontaminasi 8. Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram
Inkubasi Jamur Tiram dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi
dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media
berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40
– 60 hari. 9. Panen Jamur Tiram
Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal,
pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur.
Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan
kesegarannya dan mempermudah pemasaran. (Galeriukm).
Minggu, 02 Oktober 2011
TEHNIK PEMBIBITAN TANAMAN BUAH
A.
Persyaratan pembibitan
1.
Lokasi
a.Dekat
sumber air dan airnya tersedia sepanjang tahun, terutama untuk menghadapi musim
kemarau.
b.Dekat
jalan yang dapat dilewati kendaraan roda empat, untuk memudahkan kegiatan pengangkutan keluar dan masuk kebun.
c.Terpusat
sehingga memudahkan dalam perawatan dan pengawasan. Luasnya disesuaikan dengan
kebutuhan produksi bibit.
d.Lahan
datar dan drainase baik.
e.Teduh
dan terlindung dari ternak.
2.
Kesuburan tanah
a.Diperlukan
untuk kebun koleksi pohon induk dan kebun persemaian batang bawah,
b.sehingga
pertumbuhan dan produktivitas tanaman dapat optimal.
c.Menunjang
kemudahan dalam memperoleh media semai dan media tanam dalam polybag
3.
Kondisi iklim
a.Daerah
yang ideal untuk lokasi kebun pembibitan adalah daerah yang bersuhu udara sejuk,
kelembaban udara yang relatif tinggi, serta curah hujan yang cukup akan
menunjangpertumbuhan awal bibit tanaman.
b.Kondisi
sebaliknya justru diperlukan untuk kebun produksi buah dengan hari kering (kemarau)
harus tegas terpisah dari hari hujan. Karena ini berpengaruh pada pembungaan dan
pembuahan.
4.
Sumber daya produksi
a.Sumber
daya manusia yang terampil, rajin dan cinta tanaman. Unsur cinta tanaman (hobby) ini penting artinya karena pada
hakekatnya tanaman adalah makluk hidup yangpenanganannya memerlukan perhatian
khusus.
b.Sumber
daya produksi lainnya yang diperlukan dalam pembibitan tanaman antara lain pupuk
kandang, polybag, paranet, pestisida dan lain-lain. Kesulitan memperoleh
bahanbahan tersebut terutama berdampak terhadap menurunnya mutu bibit yang
dihasilkan, atau mahalnya biaya produksi.
B.
Pengelolaan pembibitan
1.
Media tumbuh dalam polybag
a.Syarat
media tumbuh yang baik adalah ringan,murah,mudah didapat, porus (gembur) dan subur
(kaya unsur hara). Penggunaan media tumbuh yang tepat akan menentukan pertumbuhan
optimum bibit yang ditangkarkan.
b.Komposisi
media tanam untuk mengisi polybag dapat digunakan campuran tanah, pupuk kandang
dan sekam padi dengan perbandingan 1:1:1.
c.Sterilisasi
pupuk kandang sebelum digunakan untuk campuran media bertujuan membunuh
penyakit, cendawan, bakteri, biji gulma, nematoda dan serangga tanah.
d.Sterilisasi
ini misalnya dilakukan dengan uap air panas atau perebusan dengan menggunakan drum minyak tanah (isi 200 l).
Drum diisi setengahnya, kemudian dipanaskan di atas tungku. Setelah air
mendidih pupuk kandang dalam karung bekas dimasukkan ke dalam drum (direbus selama 0,5-1
jam).
e.Ukuran
polybag yang banyak digunakan di pembibitan buah-buahan biasanya berukuran 15X20
cm (diameter x tinggi) sampai batang bawah dapat disambung atau diokulasi (sekitar
3-4 bulan setelah tanam biji). Tiga sampai empat bulan setelah itu, bibit dapat
dipindahkan ke polybag berukuran 20x30 cm.Tiga sampai empat bulat berikutnya
bibit dipindah ke polybag ukuran 30x40 cm. Hal ini diperlukan karena polybagnya
sudah tidak memadai lagi untuk perkembangan akarnya sedangkan bibit masih belum
siap ditanam. Akibat makin menyempitnya ruang tumbuh akar, kondisi kesuburan
bibitnya jadi menurun, bahkan setelah beberapa lama pertumbuhannya seolah-olah
berhenti.
2.
Cara penggantian polybag
a.Polybag
lama disobek dengan silet atau pisau secara hati-hati agar media di dalamnya tidak
pecah atau berhamburan. Sebaiknya polybag disiram dengan air sebelum dilaksanakan
pindah tanam, agar media lebih kompak/padat.
b.Polybag
pengganti diisi media tumbuh yang baru, sampai seperempat bagian dari volume polybag.
c.Setelah
itu, media lama yang menyelubungi perakaran bibit dikurangi sedikit dan perakaran
yang sudah mati atau mengering dipotong dengan gunting setek, kemudian bibit
dimasukkan ke dalam polybag pengganti.
d.Bibit
diatur agar letaknya tepat di tengah polybag, kemudian media tumbuh yang baru dimasukkan
ke dalam polybag sampai hampir menyentuh bibir polybag pengganti.
e.Bibit
dalam polybag baru disiram sampai cukup basah agar media tumbuh yang baru dimasukkan
memadat, sehingga kedudukan bibit menjadi kuat.
3.
Naungan bibit
a.Fungsi
naungan pada bibit sewaktu kecil:
1)Mengatur
sinar matahari yang masuk ke pembibitan hanya berkisar antara 30 - 60% saja.
2)Menciptakan
iklim mikro yang ideal bagi pertumbuhan awal bibit.
3)Menghindarkan
bibit dari sengatan matahari langsung yang dapat membakar daun-daun muda.
4)Menurunkan
suhu tanah di siang hari, memelihara kelembaban tanah, mengurangi derasnya
curahan air hujan dan menghemat penyiraman air.
b.Jenis
naungan untuk pembibitan:
1)Naungan
seng plastik hijau meneruskan sinar sebesar 40-60% (40% untuk naungan plastik
yang sudah lama terpasang hingga 60% untuk yang baru dipasang).
2)Naungan
paranet dari bahan plastik atau nylon. Paranet tipe 55 dan 45 (55% dan 45% sinar
yang diteruskan).Umur pakainya bisa bertahan lama (3-4 tahun), sehingga sekali pasang
dapat dipakai untuk beberapa kali usaha pembibitan.
3)Naungan
sederhana dari anyaman bambu, daun kelapa dan sebgainya, yang disusun sedemikian
rupa, sehingga menghasilkan sinar masuk sekitar 50%.
4.Tempat
pemeliharaan bibit berpolybag
a.Menggunakan
rak yang terbuat dari bilah bambu atau besi.Ventilasi atau jalan angin di bawah
rak bibit berfungsi:
1)Mencegah
penularan bibit penyakit dari tanah yang sering terlontar ke daun bila terkena
cipratan air hujan.
2)Kelebihan
air siraman atau hujan dengan mudah menetes ke bawah, sehingga media tidak
menjadi becek dan kelembaban udara di sekitar bibit tidak terlalu tinggi, ini penting
untuk menghindari pertumbuhan cendawan.
3)Pertumbuhan
akar tunggang akan terhambat atau berhenti apabila terkena udara di lubang
dasar polybag dan sebaliknya pertumbuhan akar lateralnya bertambah, sehingga
semakin menguatkan kedudukan bibit.
b.Menggunakan
alas dari mulsa plastik hitam perak. Pemakaian alas berupa mulsa plastik berfungsi:
1)Mengurangi
dan mencegah pertumbuhan gulma disekitar bibit tanaman.
2)Mencegah
siraman air ke media polybag terus lari ke bawah atau lapisan tanah dibawah
polybag, karena tertahan oleh lapisan mulsa plastik.
3)Pertumbuhan
akar tunggang akan terhambat atau berhenti karena tidak mampu menempus lapisan
mulsa plastik dan sebaliknya pertumbuhan akar lateralnya bertambah, sehingga
semakin menguatkan kedudukan bibit.
5.
Pemeliharaan bibit
a.Penyemprotan
dengan insektisida apabila terdapat hama. Biasanya hama yang menyerang tanaman
di pembibitan adalah kutu perisai, kutu putih dan ulat daun. Insektisida yangdigunakan,
misalnya Supracide 25 WP, Decis 2,5 EC, Reagent 50 SC atau Decis 2.5 EC dengan
konsentrasi 2 cc/l air.
b.Penyemprotan
dengan fungisida apabila terdapat serangan penyakit. Biasanya penyakit yang
menyerang tanaman di pembibitan terutama yang disebabkan oleh Rhizoctonia
sp, Phytophthora sp, Fusarium sp dan Phytium sp.
Bibit yang terserang supaya tidak menular segera dipisahkan dari kelompok yang
masih sehat, kemudian seluruh bibit disemprot dengan Antracol 70 WP, Dithane
M-45 80 WP dengan konsentrasi 2 cc/l atau 2 g/l air.Penyemprotan diulang
seminggu sekali.
c.Pemupukan
dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk daun seperti Atonik, Metalik atau
Gandasil D dengan konsentrasi 2 cc/l air atau menggunakan pupuk NPK (15:15:15) dengan
konsentrasi 1-2 g/l air. Pemberian pupuk ini dilakukan seminggu sekali. Selain
itu pemupukan dapat juga diberikan melalui tanah dengan dosis 1-2 gram per
tanaman yang dilakukan sebulan sekali.
d.Penyiraman
bibit pada musim kemarau biasanya dilakukan setiap dua hari sekali,sedangkan
pada musim hujan disesuaikan. Penyiraman bibit ini dilakukan dengan menggunakan
gembor air.
e.Pengairan
sistem genangan atau bahasa Jawanya dilep apabila pembibitannya dilakukan dalam
polybag yang ditaruh di sawah, maka cara penyiramannya dengan menutup saluran pembuangan
air, kemudian air dimasukkan ke areal pembibitan sampai media di polybag menjadi
basah.Pemasukan air ini sebaiknya dilakukan pada waktu sore/malam hari ketika
suhu tanah tidak tinggi. Lama perendaman 1-2 jam dengan tinggi air cukup ¾
tinggi polybagnya.
f.Penyiangan
rumput pengganggu (gulma), karena rumput selalu bersaing dengan bibit dalam
pengambilan hara, ruang tempat tumbuh, air dan sinar matahari.
6.
Pengepakan bibit
a.Untuk
bibit yang dikirim dalam bentuk stump (cabutan), pengirimannya tidak ada
masalah karena beberapa bibit bisa saja dibungkus dengan batang pisang atau
bahan lain yang bersifat lembab, sehingga akarnya tidak kering, semisal bibit
jeruk dan jati.
b.Pengepakan
bibit yang peka, seperti bibit durian, dapat dilakukan dengan cara mengeluarkan
setengah tanahnya, kemudian ditambahkan serbuk kelapa (cocopit). Untuk menghilangkan
stres, sebelum diangkut bibit diletakkan dahulu di bawah naungan dan disiram
untuk adaptasi. Setelah satu minggu biasanya bibit sudah segar kembali dan
dapat dipak dalam peti berventilasi untuk dikirim. Dengan cara pengepakan
seperti ini, maka bibit dalam polybag yang semula beratnya 4-7 kg/bibit
menjadi0,5-1 kg/bibit.
c.Mengeluarkan
setengah tanahnya dan ditambah dengan gel (Agrosoft), kemudian polybag diikat.
Keadaan ini membuat bibit mampu bertahan sampai 4-7 hari tanpa penyiraman
d.Pengepakan tanpa mengurangi media tanam,
biasanya untuk angkutan darat.
KARYA INOVASI DAN DIVERSIFIKASI PENGELOLAAN HASIL HUTAN MENGATASI KELANGKAAN KAYU
Beberapa inovasi pengelolaan hasil hutan baik kayu maupun bukan kayu
dimuat dalam buku "102 Inovasi Indonesia - 2010" yang diterbitkan oleh
Kementerian Riset dan Teknologi bersama Business Innovation Center (BIC).
Buku tersebut memuat 102 karya inovasi dalam berbagai aspek atau
bidang, di antaranya terkait dengan pengelolaan hasil hutan. Inovasi di
bidang kehutanan akan mendukung pengembangan diversifikasi pengelolaan
hasil hutan, baik kayu maupun bukan kayu.
Inovasi pengelolaan hasil hutan yang dimuat dalam buku "102 Inovasi Indonesia-2010" antara lain :
Pemanfaatan limbah kayu dan anyaman bambu betung sebagai bahan baku
papan komposit berkualitas tinggi. Keunggulan inovasinya menghasilkan
papan komposit yang ramah lingkungan, dapat menjadi substitusi kayu
lapis dengan kualitas baik dan tahan terhadap serangan rayap,
diversifikasi pemanfaatan bambu bernilai tambah tinggi, serta
menghidupkan ekonomi petani bambu.
Membuat gedhek modern. Dengan inovasi pengolahannya, bambu dapat
digunakan sebagai substitusi kayu keras yang semakin langka. Keunggulan
inovasinya menghasilkan produk perekatan bambu berbentuk papan bambu
atau balok bambu yang dikenal sebagai bambu lamina atau bambu lapis
Barcoding berbasis Deoxyribonucleic Acid (DNA) untuk lacak
balak kayu tropis. DNA yang diekstrak, diisolasi dan diamplifikasikasi
dari kayu (log) bersifat unik sehingga bisa digunakan untuk melacak
aliran kayu dengan membandingkan informasi DNA kayu yang diselidiki
dengan basis data DNA kayu di tempat asalnya. Informasi DNA ini dapat
diintegrasikan pada sistem tata usaha kayu seperti pelabelan dengan barcode.
Mesin pemilah kayu konstruksi. Mesin ini bisa menggantikan mesin
penguji yang masih diimpor dengan harga yang tinggi dan dapat memberikan
penanda mutu pada semua jenis kayu tanpa merusaknya.
Bioinduksi : teknologi rekayasa produksi Gaharu dengan induksi Jamur Fusarium. Gaharu adalah resin wangi bernilai tinggi sebagai hasil dari infeksi jamur Fusarium pada pohon penghasil Gaharu dari keluarga Thymeleaecea.
Inovasi bioinduksi ini dapat melipatgandakan produksi Gaharu yang akan
berdampak positif bagi masyarakat pengumpul Gaharu, sekaligus
melestarikan pohon penghasil Gaharu di alam.
Papan partikel tanpa perekat sintesis (Binderless Particle Board)
dari limbah industri perkayuan dan pertanian. Inovasi ini mengembangkan
proses pembuatan papan partikel tanpa menggunakan perekat. Papan
partikel yang dihasilkan memiliki sifat fisis dan mekanis yang cocok
digunakan untuk bagian interior yang tidak menerima beban tinggi, dan
karena tidak menggunakan perekat formaldehida maka aman bagi kesehatan.
Penerapan teknik guludan dalam penanaman mangrove pada lahan yang
terendam air masin yang dalam. Teknik guludan diterapkan untuk
melestarikan hutan bakau pada lahan yang tergenang air cukup dalam, baik
yang berarus tenang maupun yang berarus keras. Teknik ini dapat
mengembalikan hutan bakau yang rusak terabrasi.
Panel sandwich dari bambu untuk komponen pra-pabrikasi. Panel sandwich
adalah produk komposit yang terdiri dari lapisan tipis kayu lapis
berkekuatan tinggi di sebelah luar, direkat dengan lapisan inti (core)
di bagian tengah yang lebih tebal yang terbuat dari potongan
bambu-bambu yang disusun secara vertikal. Produk ini selain ringan,
memiliki rasio kekuatan dan kekakuan yang tinggi, sehingga dapat
diaplikasikan untuk dinding, lantai, maupun plafon suatu bangunan.
Karya inovasi di atas menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dan bermanfaat
untuk mengatasi kelangkaan kayu dari hutan alam, meningkatkan
pertumbuhan ekonomi masyarakat, serta mendukung upaya pelestarian
lingkungan dan sumberdaya alam.
1. Definisi Telusur Gua
Kegiatan di alam bebas semakin berkembang. Mendaki gunung sudah sangat dikenal, meniti tebing terjal, bahkan menginjak puncak gunung es atau salju kini bukan lagi merupakan suatu impian. Ada satu kegiatan lain di alam bebas yang mulai berkembang, yaitu Telusur Gua.
Jika bentuk kegiatan di alam bebas kebanyakan dilakukan di alam terbuka, tidak demikian halnya dengan telusur gua ; kegiatan ini justru dilakukan di dalam tanah.
Telusur Gua atau Caving berasal dari kata cave, artinya gua. Menurut Mc Clurg, cave atau gua bearti “ruang alamiah di dalam bumi”, yang biasanya terdiri dari ruangan-ruangan dan lorong-lorong.
Aktivitas Caving diterjemahkan sebagai ‘aktivitas penelusuran gua’. Setiap aktivitas penelusuran gua, tidak lepas dari keadaan gelap total. Justru keadaan seperti ini yang menjadi daya tarik bagi seorang caver, sebutan untuk seorang penelusur gua. Petualangan di lorong gelap bawah tanah menghasilkan pengalaman tersendiri. Perasaan ingin tahu yang besar bercampur dengan perasaan cemas karena gelap total. Ada apa dalam kegelapan itu ? membahayakankah ? adakah kehidupan di sana ? Pertanyaan lebih jauh bagaimana lorong-lorong itu terbentuk ? Pertanyaan yang kemudian timbul, kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang gua dan aspeknya, termasuk misteri yang dikandungnya. Maka dikenal istilah “speleologi”. Ruang lingkup ilmu pengetahuan ini tidak hanya keadaan fisik alamaiahnya saja, tetapi juga potensinya; meliputi segi terbentuknya gua, bahan tambang, tata lingkungan, geologi gua, dan segi-segi alamiah lainnya.
Kalau sebagian orang merasa enggan untuk mendekati “lubang gelap mengangga”, maka para penelusur gua justru masuk kedalamnya, sampai berkilo-kilometer jauhnya. Lubang sekecil apapun tak luput dari perhatiannya, jika perlu akan ditelusuri sampai tempat yang paling dalam sekalipun.
Mc. Clurg mencatat, setiap penelusuran gua tidak menginginkan lorong yang ditelusurinya berakhir, mereka mengharapkan di setiap kelokan di dalam gua dijumpai lorong-lorong yang panjangnya tidak pernah disaksikan oleh siapapun sebelumnya. Sehingga apabila orang bertanya, “ Mengapa mereka memasuki gua ?”, barangkali catatan Norman Edwin adalah jawabannya, “ Adalah suatu kepuasan bagi seorang penelusur gua bila lampu yang dibawanya merupakan sinar pertama yang mengungkapkan sebuah pemandangan yang menakjubkan di bawah tanah”. 2. Sejarah Penelusuran Gua
Sejarah penelusuran gua dimulai di Eropa sejak 200 tahun lalu. Eksplorasi pertama tercatat dalam sejarah adalah tanggal 15 Juli 1780, ketika Louis Marsalliers menuruni gua vertikal Fairies di Languedoc, Perancis. Kemudian pada tanggal 27 Juni 1888, seorang ahli hukum dari Paris bernama Eduard Alfred Martel mengikuti jejak Marssalliers. Penelusurannya kali ini direncanakan lebih matang dengan menggunakan peralatan lengkap seperti katrol, tangga gantung, dan perahu kanvas yang pada waktu itu baru diperkenalkan oleh orang-orang Amerika. Bahkan telephone yang baru diperkenalkan digunakan untuk komunikasi di dalam tanah. Usaha Martel ini dianggap sebagai revolusi di bidang penelusuran gua, sehingga ia disebut sebagai “Bapak Speleologi Modern”.
Prestasi Martel juga dalam hal memetakan gua yang merupakan kewajiban seorang penelusur gua ketika ia melakukan eksplorasi gua ketika ia melakukan eksplorasi gua. Antara tahun 1888-1913, Martel telah banyak memetakan gua dalam setiap penelusurannya, ini digunakan untuk kepentingan ilmiah, dan untuk merekam kedalaman serta panjang gua-gua tersebut.
Ketika Perang Dunia II selesai, kegiatan penelusuran gua memunculkan kembali dua orang tokoh ; Robert de Jolly dan Norman Casteret. De Jolly merupakan pembaharu di bidang peralatan peralatan penelusuran gua, seperti tangga gantung dari aluminium dan perahu kanvas yang lebih sempurna. Penemuan ini mejadi standar bagi para penelusur gua sampai 50 tahun kemudian. Sedangkan Casteret menjadi pioneer di bidang “cave diving”. Usahanya ini dilakukan pada tahun 1922, ketika Casteret pertama kali menyelami lorong-lorong yang penuh air di gua Montespan tanpa bantuan peralatan apapun. Karangan-karangan Casteret antara lain “My Cave” dan “Ten Years Under Ground”, yang kemudian menjadi buku pegangan bagi para penggemar cave diving dan ahli speleologi.
Kebanyakan penelusur gua memulai kegiatannya sebagai pemanjat tebing, karena memang kegiatan yang dilakukan hampir serupa. Para pemanjat tebing pula yang memberi inspirasi bagi perkembangan penelusuran gua. French Alpine Club, sebuah perkumpulan pendaki gunung ternama di Eropa telah mengadakan ekspedisi bawah tanah, dan untuk pertama kalinya menggunakan tali sebagai pengganti tangga gantung. Kelompok ini pula yang mencipatakan rekor penurunan gua vertikal sedalam 608m.
Sejarah penelusuran gua sejalan dengan sejarah penelitian gua (speleologi), kedua kegiatan ini tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Eduard Martel, Robert de Jolly, Norman Casteret dan banyak lagi penelusur gua di seluruh dunia. II. TERJADINYA GUA DAN JENISNYA
Dua unsur penting yang memegang peran terjadinya gua, yaitu rekahan dan cairan. Rekahan atau lebih tepat disebut sebagai “zona lemah”, merupakan sasaran bagi suatu cairan yang mempunyai potensi bergerak keluar. Cairan ini dapat berupa larutan magma atau air. Larutan magma menerobos ke luar karena kegiatan magmatis dan mengikis sebagian daerah yang dilaluinya. Apabila kegiatan ini berhenti, maka bekas jejaknya (penyusutan magma cair) akan meninggalkan bentuk gua, lorong, celah atau bentuk lain semacamnya. Ini sering disebut gua lava, biasanya di daerah gunung berapi.
gambar 1. proses terbentuknya gua
Proses yang terjadi terhadap batuan yang dilaluinya, tidak hanya proses mekanis, tetapi juga proses kimiawi. Karenanya, dinding celah atau gua, biasanya mempunyai permukaan yang halus dan licin.
Pembentukan gua lebih sering terjadi pada jenis batuan gamping, karst, dengan komposisi dominan Kalsium Karbonat (CaCO3), disebut gua batu gamping. Batuan ini sangat mudah larut dalam air, bisa air hujan atau air tanah. Oleh karenanya, reaksi kimiawi dan pelarutan dapat terjadi di permukaan dan di bawah permukaan. Tetapi sering kali ditemukan juga mineral-mineral hasil reaksi yang tidak larut di dalam air, misalnya kuarsa dan mineral ‘lempung’. Lazimnya bahan-bahan ini akan membentuk endapan tersendiri. Sedangkan larutan jenuh kalsium, di tempat yang tidak terpengaruh oleh tenaga mekanis, diendapkan dalam bentuk kristalin, antara lain berupa stalagtit dan stalagmit, yang tersusun dari mineral kalsit, dan variasi-variasai ornamen gua lainnya yang menarik untuk dilihat.
Air cenderung bergerak ke tampat yang lebih rendah. Sama dengan yang terjadi di bawah permukaan. Sama dengan yang terjadi di bawah permukaan. Hal ini berakibat daya reaksi dan pengikisan bersifat kumulatif. Tidak heran betapapun kecilnya sebuah celah tempat masuknya air di permukaan dapat menyebabkan hasil pengikisan berupa rongga yang besar, bahkan lebih besar di tempat yang lebih dalam. Rongga yang terbentuk mestinya berhubungan pula, hal ini mungkin karena sifat air yang mudah menyusup ke dalam celah yang kecil dan sempit sekalipun.
Ukuran besarnya gua tidak hanya tergantung pada intensitas proses kimiawi dan pengikisan yang berlangsung, akan tetapi juga ditentukan oleh jangka waktu proses itu berlangsung. Sedangkan pola rongga yang terjadi di bawah permukaan tidak menentu. Seandainya ditemukan pola rongga yang spesifik (mengikuti arah tertentu) maka dapat diperkirakan faktor geologi ikut berperan, misalnya adanya sistim patahan atau aspek geologis lainnya.
gambar 2. proses pembentukan stalaktit
Selain jenis lava dan batu gamping yang dapat menyebabkan terjadinya gua, jenis batu pasir juga kadang-kadang memungkinkan terjadinya gua, demikian pula batuan yang membentuk lereng curam di tepi pantai. Kedua jenis batuan yang terakhir ini, biasanya mengakibatkan terjadinya gua yang tidak begitu dalam. Tenaga yang mempengaruhinya adalah tenaga mekanis berupa hantaman air atau hempasan ombak. Gua yang terjadi di sini disebut gua laut.
Di dalam proses pembentukan lorong ada banyak sekali kemungkinan bentuk, termasuk juga pembentukan apa yang kemudian kita sebut sebagai ornamen gua atau speleothem, beberapa ornamen yang memiliki sifat sama diberi nama; diantaranya;
gambar 3. stalaktit dan straw
1. Aragonite : Crystalline / cristal yang terbentuk dari CaCO3, jarang dijumpai.
2. Flow Stone : Kalsit (Calsite) yang terdeposisi (diendapkan) pada dinding lorong gua.
3. Gours : Kumpulan kalsit yang terbentuk di dalam aliran air atau kemiringan tanah. Aliran ini mengandung banyak CO2. Semakin CO2 memuai (menguap), kalsit yang terbentuk semakin banyak.
4. Helectite : Formasi gua yang timbul dengan sudut yang berlawanan dari gaya tarik bumi. Biasanya melingkar.
5. Marble : Batu gamping yang mengalami perubahan bentuk dimetamorfasekan oleh panas dan tekanan sehingga merubah struktur yang unik dari batu tersebut.
6. Stalactite : Formasi kalsit yang menggantung
7. Stalacmite : Formasi kalsit yang tumbuh ke atas, di bawah atap stalactite.
8. Straw : seperti stalactite tapi diameternya kecil, sebesar tetasan air.
9. Styalalite : Garis gelombang yang terdapat pada potongan batu gamping.
10. Pearls : Kumpulan batu kalsit yang berkembang di dalam kolam di bawah tetesan air. Disebut pearls karena bentuknya mirip mutiara.
11. Curtain : Endapan yang berbentuk seperti lembaran yang terlipat, menggantung di langit-langit gua atau di dinding gua.
12. Column
13. Couli Flower
14. Rimstone Pool : Berbentuk seperti bendungan yang berbentuk ketika terjadi pengendapan air, CO2-nya menghilang dan menyisakan kalsit yang bersusun-susun.
gambar 4. curtain, rimestone pool, pearl cave
III. ETIKA DALAM PENELUSURAN GUA
Penelusuran gua merupakan kegiatan kelompok, karenanya dalam setiap penelusuran tidak dibenarkan seorang diri. Jumlah minimal untuk sebuah eksplorasi gua adalah 4 orang. Hal ini didasarkan atas pertimbangan, jika terjadi kecelakaan pada salah seorang anggota kelompok, satu orang dibutuhkan untuk menjaganya, sedangkan dua lainnya mempersiapkan pertolongan (rescue), atau kalau tidak mungkin, cari pertolongan kepada penduduk.
Sebelum memasuki gua, hal yang harus dilakukan adalah meninggalkan pesan kepada orang lain tentang : tujuan gua yang akan dimasuki, jumlah penelusur, lama kegiatan, bagian gua yang akan dimasuki, dan lain-lain. Kemudian tinggalkan seorang pengamat di luar gua. Orang ini akan sangat berguna untuk memberi peringatan, jika terjadi sesuatu di luar gua, misalnya hujan lebat yang dapat mengakibatkan banjir dalam gua. Kalau tidak mungkin, pelajarilah keadaan cuaca terakhir di daerah tersebut, juga disiplin waktu yang disepakati.
Hal lain yang harus diperhatikan, yaitu membawa makanan dan minuman. Paling penting kondisi badan harus selalu fit di saat melakukan penelusuran gua. Sikap yang baik, menyadari kemampuan diri sendiri dan tidak memaksakan diri untuk menelusuri gua, jika kondisi atau kemampuan tidak memungkinkan.
Satu hal yang harus diresapi dan disadari oleh setiap penelusur gua yaitu masalah “konservasi”. Jangan mengambil apapun, jangan meninggalkan apapun dan jangan bunuh apapun. Setiap buangan yang ditinggalkan akan merusak lingkungan biologis gua yang sangat rapuh, misalnya sampah karbit. Bawalah semua sampah-sampah ke luar gua dan buang ke tempat pembuangan sampah. Setiap kerusakan yang ditimbulkan oleh penelusur adalah tindakan tercela, karena untuk merusakkan benda-benda dalam gua misalnya stalagmit dan stalagtit hanya butuh beberapa detik saja, sedangkan proses pembentukan benda-benda tersebut membutuhkan waktu ribuan bahkan jutaan tahun.
Jika prinsip-prinsip di atas disadari dan dilaksanakan oleh penelusur gua, maka semboyan: take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time, terasa semakin berarti.
IV. TEKNIK DALAM PENELUSURAN GUA IV.1. Penelusuran Gua Horisontal
Pada dasarnya setiap penelusur gua, harus memulai perjalanannya dalam kondisi tubuh fit . Malah dalam sebuah buku teks disebutkan , apabila badan terasa kurang fit, sebaiknya perjalanan eksplorasi gua dibatalkan (etika penelusuran gua). Hal ini disebabkan karena udara di dalam gua sangat buruk, penuh deposit kotoran burung dan kelelawar, ditambah kelembaban yang sangat tinggi. Mudah sekali dalam kondisi demikian seorang penelusur gua terserang penyakit paru-paru, beberapa pioneer penelusur gua menghentikan kegiatan eksplorasinya karena terserang penyakit ini.
Selain memerlukan kondisi tubuh yang baik, seorang penelusur gua sedikit banyak harus harus memiliki kelenturan tubuh dan yang terpenting tidak cepat menjadi panik dalam keadaan gelap dan sempit. Bentuk tubuh juga mempengaruhi kecepatan gerak seorang penelusur gua. Penelusur Gua ideal adalah yang memiliki badan relatif kecil meskipun belum tentu menjadi jaminan akan menjadi penelusur handal.
Dalam penelusuran horisontal, kita lakukan gerak, jalan membungkuk, merangkak, merayap, tengkurap, dan kadang terlentang, menyelam serta berenang. Dengkul dan ujung siku merupakan sisi penting buat seorang penelusur atau caver. Peralatan pribadi untuk gua horisontal
1. Helm
2. Caving sling
3. Cover all
4. Caving pack sack Peralatan tim untuk gua horisontal
1. Perahu karet
2. Tali
3. Kamera
4. Kompas
5. Topofil IV.2 Penelusuran Gua Vertikal
Sampai dengan saat ini, ada beberapa sistem yang digunakan dalam penelusuran gua vertikal. Yang dianggap terbaik karena efektifitasnya adalah Single Rope Technique (SRT).
SRT hanya menggunakan satu tali tunggal, dan menggunakan prinsip pemindahan beban ketika menaiki tali tersebut, sehingga menggunakan dua alat naik. IV.2.1 Peralatan Penelusuran Gua Vertikal
Disini hanya akan dibahas mengenai peralatan yang digunakan untuk keperluan SRT, dan sedikit alternatifnya. A. Peralatan Pribadi
Perlengkapan/peralatan yang disebutkan di bawah ini merupakan perlengkapan yang harus melekat pada seorang penelusur gua pada saat melakukan penelusuran gua vertikal. Secara garis besar peralatan yang harus dikenakan pribadi dibagi menjadi 3, yaitu alat untuk naik, alat untuk turun dan peralatan penunjang. Peralatan Naik (ascender) Ada beberapa jenis peralatan yang dapat dikategorikan dalam ascender, yang memiliki keistimewaan apabila terbeban akan semakin mengunci ke tali. 1. Foot Loop Jammer Alat ini akan digunakan oleh tangan untuk menarik beban badan, dihubungkan dengan webbing ke sit harness, sehingga juga menjadi pengaman kita. Pada alat ini ditempatkan foot-loop (sling injak) dan security link (tali pengaman). Alat ini menggunakan gigi-gigi runcing untuk mencengkram mantel dari tali, sehingga semakin terbeban akan semakin mengunci ke tali. Yang biasa digunakan sebagai Foot Loop Jammer adalah Jumar produksi Petzl, yang memiliki dua warna, kuning untuk tangan kiri, dan biru untuk tangan kanan. Ada beberapa jenis ascender lain yang memiliki bentuk dan fungsi hampir sama dengan Jumar Petzl, diantaranya CMI Jammer. 2. Chest Jammer Alat untuk naik yang prinsipnya hampir sama dengan Jumar, namun bentuknya lebih ringkas (tidak ada pegangan untuk tangan), dan dihubungkan langsung dengan Sit Harness dan Chest Harness, selain sebagai alat naik, juga berguna untuk menjaga agar badan tetap sejajar dengan tali. Chest Jammer keluaran Petzl biasa disebut Croll yang memang sudah dirancang untuk kepentingan SRT.
Jumar dan Croll merupakan dua alat utama yang digunakan dalam SRT, ketika badan kita menggunakan Croll sebagai pengaman, dalam artian beban kita bergantung di Croll, tangan kita dapat menggunakan Jumar untuk menambah ketinggian. Peralatan Turun (Descender) 1. Figure Of Eight Dapat digunakan sebagai alat turun, namun dalam SRT hal ini tidak dianjurkan, mengingat Figure Of Eight mengandalkan friksi dengan tali dengan cara membelokkan arah tali, sementara tali yang digunakan di SRT adalah Tali Statis yang akan lebih mudah rusak apabila arah gayanya diubah. 2. Bobin Descender Alat yang dikeluarkan Petzl ini, dikhususkan penggunaannya untuk menuruni tali pada SRT, yang digunakan adalah Bobin Single Rope. Bobin digunakan oleh orang yang sudah terbiasa menuruni tali dengan SRT, karena tidak memiliki kunci pengaman, kontrol kecepatan diatur oleh tangan kita. 3. Rack Rack memiliki batang-batang yang dapat dirubah posisinya, untuk mengatur friksi antara alat dengan tali, hal ini akan mempengaruhi kecepatan. Rack akan relatif lebih dingin setelah pengunaan jangka panjang. 4. Auto Stop Descender Auto Stop merupakan alat turun yang paling aman untuk digunakan dalam melakukan SRT. Hal ini karena Auto Stop dilengkapi dengan sistem kunci otomatis, dan dapat dipasang tanpa melepaskannya dari kaitan ke harness. Peralatan Penunjang Merupakan peralatan yang juga harus dikenakan ketika melakukan SRT, yang digambarkan disini adalah prinsip-prinsipnya, bisa digunakan benda lain dengan prinsip sama 1. Sit Harness Ada berbagai jenis Sit Harness, untuk keperluan SRT Petzl khusus mengeluarkan Avanti. Sit Harness ini berbeda dengan harness untuk keperluan memanjat ataupun canyoning. Avanti dapat diubah ukurannya sesuai dengan badan kita, karena dalam melakukan SRT, ukurannya harus benar-benar tepat agar terasa nyaman. 2. Linking Maillon Semacam karabiner tetapi tidak memiliki sebuah gate (pintu dengan per). Maillon sangat kuat, terdiri dari berbagai tipe dan ukuran. Linking Maillon gunanya sebagai penghubung foot-loop jammer dengan foot-loop dan safety link. Alternatif lain dapat menggunakan small oval screwgate carabiner. 3. Foot Loop Atau tangga, digunakan waktu naik meniti tali. Foot loop merk “Camp” dapat dipanjang dan pendekkan sesuai dengan keperluan. Alternatif lain memakai etrier atau sling. 4. Security Link Disebut juga “safety link”, gunanya sebagai safety pada waktu naik. Terbuat dari Dynamic Climbing Rope, berdiameter 9mm. Panjangnya sejangkau tangan atau lebih. Pada kedua ujungnya dibuat “figure of eight knot”. Ujung pertama di foot loop jammer dan ujung lainnya di attachment pada sit harness. Bisa juga menggunakan webbing. 5. Chest Harness Merupakan harness khusus di dada. Bentuknya seperti angka delapan. Chest harness berguna untuk menempatkan “petzl croll” waktu naik, sehingga badan tetap sejajar dengan tali. Figure of eight chest harness merupakan perlengkapan standar. Alternatif lain memakai sling/chest strap. 6. Main Attachment Delta maillon 10mm adalah main attachment. Terbuat dari baja (steel) atau aluminium. Main attachment merupakan tempat utama untuk berbagai kaitan/sangkutan. Selain untuk mengunci sit harness, delta maillon juga untuk mengkaitkan croll, security link, cow’s tail dan descender. Untuk posisi main attachment tidak pernah digunakan carabiner. 7. Cow’s tail Sebagai pengaman pada saat melewati sambungan tali dan pindah anchor, waktu menuruni tali atau menaiki tali. Cow’s tail dapat dibuat dari “climbing rope 11mm”. Panjangnya kemudian dilipat dua tidak sama panjang. Masing-masing ujungnya dibuat figure of eight knot juga bagian tengahnya, bagian yang membagi dua. “loop” pada bagian tengah ini dikaitkan pada delta maillon. 8. Karabiner Oval karabiner digunakan untuk cow’s tail sedangkan oval screw gate karabiner untuk descender. Pada umumnya dalam penelusuran gua vertikal digunakan ‘oval screw gate carabiner’. 9. Helmet
Merupakan perlengkapan vital dan wajib dikenakan oleh para penelusur gua. Gunanya untuk melindungi kepala dari kemungkinan terbentur atau tertimpa batu. ‘Petzl helmet’ diperlengkapi dengan lampu karbit.
gambar 8. peralatan pribadi SRT
B. Perlengkapan Tim 1. Tali
Tali yang dipakai dalam penelusuran gua vertikal, harus mempunyai karakteristik sebagai berikut : kuat, memiliki daya tahan terhadap gesekan, daya lentur kecil dan dapat menyerap kejut. Speleo rope memenuhi syarat ini. Biasanya, spleleo rope yang dipakai berdiameter 9,5 mm sampai 11 mm.
Pemeliharaan :
Untuk memperpanjang umur tali, jauhkan dari asam (acid), alkali, hindarkan dari kemungkinan gesekan dengan batu, atau gunakan “rope pad” (alas tali). Cucilah tali setelah digunakan, tetapi jangan memakai sabun, pakailah sikat halus. Jemur tali di tempat teduh da berangin, jangan sekali-kali menjemur di panas matahari. 2. Webbing
Disebut juga tape (pita) terbuat dari nilon. Digunakan untuk membuat harness, anchor, dan lain-lain. 3. Perlengkapan lainnya
Perlengkapan lain yang diperlukan seperti tas untuk membawa tali (rucksack, tackle bag), juga untuk membawa perlengkapan lainnya. Alat penerangan seperti lampu batre, lampu karbit, atau lainnya. Sebaiknya membawa batre atau karbit cadangan. Untuk membawa karbit dapat digunakan ban dalam mobil atau motor.
Untuk mengarungi sungai di dalam gua diperlukan perahu karet khusus. IV.2.2 Tali Temali (Knots)
Merupakan pengetahuan dasar yang wajib diketahui oleh penelusur gua. Simpul-simpul yang biasa digunakan di dalam penelusuran gua, yaitu: 1. Bowline
Digunakan untuk membuat anchor karena sifatnya yang semakin mengikat apabila mendapat beban. Bowline juga digunakan dalam teknik rescue. Waktu membuat simpul ini, ujung tali harus overhand knot.
gambar 9. Bowline dan Figure of 8
2. Figure of eight
Merupakan simpul yang paling penting karena sering digunakan. Mudah membuatnya dan melepaskannya. Dipakai untuk membuat anchor, sebagai tali belay dan untuk menyambung tali. 3. Tape knot
Simpul ini digunakan untuk menyambung webbing dengan menggabungkan kedua ujungnya. Tidak ada simpul lain untuk keperluan tersebut. 4. Butterfly knot
Berfungsi untuk mengikat tali yang patah sehingga tidak terbeban. Simpul ini untuk tali dengan beban vertikal. 5. Prusik knot
Untuk prusikking (naik tali dengan bantuan prusik)
gambar 10. Tape Knot dan Prusik Knot
IV.2.3 Sistim Anchor
Anchor merupakan sebuah “titik keamanan”. Anchor yang baik, menjamin keselamatan penelusur gua, saat menuruni sumuran (potholing) maupun pada saat kembali naik. Dalam verical caving dikenal sistim “back up” dengan menggunakan beberapa titik (point). Selain untuk keamanan juga agar tali tergantung bebas (hang belay) , guna menghindari gesekan batu.
Kegunaan lain anchor adalah , untuk membelay dan untuk keperluan tertentu, seperti hauling, lowering, rescue dll.
Ada dua macam sistim anchor, yaitu : 1. Anchor Alam (Natural Anchor)
Natural Anchor relatif sangat kuat, dengan memanfaatkan batu, pohon dan lain-lain. Caranya dengan melingkarkan sling pada batu atau pohon. Dapat juga langsung menggunakan tali, dengan simpul bowline.
gambar 11. Natural Anchor dan Artificial Anchor
2. Artificial Anchor
Dinding gua biasanya tidak mempunyai rekahan, polos dan licin. Karenanya dibuat anchor buatan. Dalam vertikal caving, dapat menggunakan ‘bolt’, sedangkan piton dan chock jarang digunakan. Dua hal yang sangat penting untuk diperhatikan : 2. 1 Posisi Anchor : Posisi yang benar akan menghindarkan tali dari gesekan batu 2.2 Periksa keadaan dinding gua sebelum dipasang anchor, dengan cara mengetukkan hammer ke dinding gua. Bunyi gaung yang hampa menandakan batu yang rapuh.
gambar 12. rigging the rope
IV.2.4 Abseiling (teknik menuruni tali)
Dengan sistem SRT, teknik menuruni menjadi sangat mudah dan nyaman, dibandingkan dengan penggunaan tangga gantung yang rumit. Yang harus diingat ialah ketika melakukan SRT badan kita harus selalu berada dalam kondisi aman, dalam artian ada paling tidak satu buah pengaman yang menjaga apabila terjadi sesuatu. Dalam hal ini, pengaman yang paling terakhir dilepas dan paling awal dipasang adalah Cow’s Tail. Cara menuruni tali :
Pertama pasang cow’s tail pada back up belay, kemudian pasang tali pada descender. Setelah descender terpasang, lepaskan cow’s tail dan lakukan abseiling. Tangan kiri pada descender, sedangkan tangan kanan memegang tali bawah sebagai kontrol laju pada waktu turun.
Kecepatan waktu abseiling sebaiknya konstan, jangan terlalu cepat atau tersendat-sendat selain berbahaya juga akan merusak tali. Untuk mengurangi laju percepatan gunakan carabiner untuk menambah friksi. Carabiner ini dikaitkan pada main attachment. Sebelum melakukan abseiling, jangan lupa membuat simpul pada ujung tali.
gambar 12. memasang dan mengunci autostop
Pindah Anchor (passing a re-bellay on the descend)
Seringkali pada saat penelusuran gua harus memasang anchor lebih dari satu. Untuk dapat melewati anchor waktu turun atau naik, diperlukan pengetahuan atau teknik pindah anchor. Teknik pindah atau melewati anchor :
- Pasang cow’s tail pendek pada anchor, pada saat posisi descender sejajar dengan anchor.
- Turun lagi sampai beban ada pada cow’s tail pendek, pasang cow’s tail panjang pada hang belay, buka descender yang sudah bebas beban.
- Buka cow’s tail pendek dengan cara berdiri pada foot loop.
- Lanjutkan abseiling, lepaskan cow’s tail panjang dan lepas foot loop jammer. Pindah Sambungan (Passing a knot on the descend)
Kadang-kadang tali yang digunakan untuk menuruni gua tidak cukup panjang dan harus disambung dengan tali lain agar dapat mencapai dasar. Teknik melewati sambungan :
- Turunkan descender hingga menyentuh sambungan tali
- Pasang cow’s tail pada safety loop figure of eight
- Pasang chest jammer, croll pada tali di atas descender, jangan terlalu jauh atau terlalu dekat
- Buka descender dan pasang di tali bawah sambungan dengan posisi mengunci
- Buka croll, dengan bantuan foot loop
- Lanjutkan abseiling setelah melepas cow’s tail dan foot loop jammer.
IV.2.5 Prussiking (teknik menaiki tali)
Yaitu bagaimana supaya penelusur gua dapat tiba kembali ke permukaan. Dalam vertikal caving, telah dikembangkan berbagai teknik memakai tali dengan kelemahan dan kelebihannya.
Ada dua system, yaitu : 1. Rope Walking System
Ciri utama dari sistim ini adalah kedua kaki diikat pada ascender yang terpisah, sehingga setiap kaki dapat bergerak dengan bebas. Gerakan yang terlihat seperti seorang yang sedang menaiki tangga. Semakin tegak badan seseorang, semakin efisien sistim ini berjalan. Rope walking system terdiri dari Floating system, Basis Mitchell system, Pigmy system dan gabungan ketiganya.
gambar 13. sit-stand system
2. Sit-stand system
Berbeda dengan rope walking system, pada sistim ini tidak menggunakan dua ascender, tetapi cukup hanya satu ascender. Kedua kaki bergerak bersama, sehingga beban ditopang bersama. Keuntungannya kaki tidak cepat capai dan mudah untuk istirahat. Sit stand system terdiri dari frog system, inchworm system, texas system dan a one ascender prusik system. Dari keempat sistim, frog system paling sering digunakan karena efisien dan aman.
Frog system menggunakan satu jummar dan chest jammer croll di dada. Tangan kanan mendorong jumar ke atas, sehingga kedua kaki dalam foot loop berada dalam posisi terlipat. Pada posisi berdiri, croll ikut bergerak ke atas, sampai berada di bawah jummar. Demikian seterusnya. Pindah anchor (passing a re-belay on the ascend)
Seperti pada abseiling, teknik melewati anchor waktu naik tidak banyak berbeda. Teknik melewati anchor :
- Pasang cow’s tail pada anchor
- Pindahkan foot loop jammer ke tali di atas anchor berdiri
- Berdiri di foot loop, buka croll dan pasang pada tali atas.
- Buka cow’s tail dan lanjutkan ascending. Pindahan sambungan (passing a knot in the ascend)
- Pasang cow’s tail pada ‘safety loops’ figure of eight knot.
- Pindahkan foot loop jammer ke tali di atas sambungan.
- Berdiri di foot loop, buka croll dan pasang tali atas.
- Buka cow’s tail dan lanjutkan ascending.
V. KEMUNGKINAN KECELAKAAN YANG TERJADI
Sebagian besar kecelakaan yang terjadi di dalam gua, berasal dari kesalahan si penelusur sendiri. Dalam keadaan yang sangat gelap sering kali seorang penelusur melakukan kesalahan dalam menaksir jarak, sehingga sebuah lubang yang cukup dalam, terlihat dangkal. Tipuan ini menyebabkan ia merasa mampu untuk meloncat ke dalam lobang tersebut. Etikanya tidak diperkenankan melakukan lompatan apapun di dalam gua.
Tertimpa batu, merupakan kejadian yang sering terjadi, karena runtuhan alami akibat rapuhnya dinding gua atau akibat ketidaksengajaan si penelusur gua yang menyebabkan jatuhnya batuan dan menimpa penelusur lain. Helm menjadi wajib dikenakan untuk melindungi kepala.
Jenis kecelakaan yang lain, akibat buruknya atau tidak memenuhi syarat perlengkapan yang dipakai, misalnya tali putus, ascender tidak berfungsi. Oleh karena itu perawatan dan pemeliharaan alat-alat setelah digunakan mutlak dilakukan. Jangan ragu-ragu untuk memotong tali pada bagian yang terkoyak akibat gesekan, misalnya.
Bahaya banjir merupakan faktor penyebab utama kecelakaan lainnya. Demikian pula faktor suhu udara yang dingin, perlu diperhatikan terutama pada saat melakukan eksplorasi di gua yang basah.
Kejadian-kejadian di atas bukan tidak mungkin untuk dihindari, semuanya tergantung dari persiapan dan pengalaman yang dimiliki oleh penelusur gua.
VI. PEMETAAN
Dalam kegiatan penelusuran gua, pemetaan merupakan suatu hal yang penting, bahkan pemetaan dapat disebut sebagai aspek ilmiah dari suatu kegiatan yang bersifat petualangan. Meskipun sebenarnya banyak penelitian ilmiah yang dapat dilakukan di dalam gua, seperti penelitian Biologi, Geologi, Geomorfologi, Arkeologi, Hidrologi, Geografi, dan lain sebagainya. Tetapi sebenarnya pemetaan menduduki posisi yang paling penting. Boleh-boleh saja dalam penelusuran gua tidak melakukan penelitian Biologi atau Geologi atau yang lainnya, tetapi pemetaan merupakan hal yang wajib dikerjakan oleh seorang yang berpredikat ‘caver’.
Begitu penting pemetaan, sampai-sampai ada seorang teman dari jurusan Geografi yang menyatakan bahwa “sebuah peta lebih mempunyai banyak arti daripada seribu kata-kata”.
gambar 14. Peralatan pemetaan standar
Pemetaan merupakan bagian dari kegiatan yang bersifat perekaman atau pendokumentasian. Dalam hal ini adalah yang berhubungan dengan rekaman bentukan fisik gua, misalnya bentuk atau denah lorong, panjangnya, tingginya, keletakan ornamen, apa saja ornamennya, posisi aliran air, lumpur, sump, dan lain sebagainya.
Pemetaan sebuah gua merupakan salah satu upaya untuk mendokumentasikan gua tersebut, sehingga peta tersebut akan menjadi informasi untuk penelusur gua lainnya, ia akan mengetahui denah guanya, ukurannya, ornamen yang menghiasinya, dan lain sebagainya, jauh dari sebelum ia sendiri memasuki gua tersebut. Pemetaan juga memberikan informasi ilmiah yang berguna bagi penelitian ilmu pengetahuan. Peta gua juga berarti sebagai bukti seorang caver telah memasuki atau mengeksplorasi suatu gua.
VI.1. Peta Gua
Sebuah Peta Gua yang baik, akan dapat memberikan gambaran kepada orang yang membaca peta tersebut dengan mudah.
Sehingga sebuah peta gua harus Informatif, dan Komunikatif.
Dianggap informatif apabila, data-data yang perlu diketahui dapat ditemukan disini, dalam hal ini data-data yang dibutuhkan untuk sebuah kepentingan eksplorasi. Tentu akan berbeda dengan peta yang dibuat untuk kepentingan penelitian, atau wisata misalnya. Dan peta tersebut akan komunikatif apabila dalam hasil akhirnya tidak membingungkan orang yang membacanya, memiliki alur dan susunan yang jelas dan sesuai dengan aturan yang telah disetujui bersama.
Peta sebuah gua minimal menerangkan tentang; 1. Penampang Atas, atau denah lorong untuk menunjukkan bentukan, arah dan belokan lorong. 2. Penampang Samping, Irisan, atau Section untuk menunjukkan ketinggian lorong, dan kemiringan gua tersebut. 3. Simbol Ornamen, simbol-simbol yang telah disepakati untuk mewakili ornamen yang terdapat di dalam gua tersebut. 4. Potongan Stasiun, ditiap titik yang dijadikan sebagai pos atau stasiun digambarkan potongannya. 5. Data Gua, keterangan mengenai gua tersebut, namanya, letak geografis dan administratifnya, surveyornya, dan tanggal dilakukan survey untu pemetaan. Hal ini termasuk penting mengingat perubahan bentukan gua dapat terjadi setiap saat. 6. Skala, untuk menunjukkan perbandingan, biasanya digunakan skala batang karena lebih mudah untuk membayangkan keadaan sebenarnya. 7. Arah Utara Peta 8. Legenda, atau keterangan simbol.
Apabila sudah terdapat hal-hal tersebut, maka peta gua yang dibuat seharusnya sudah mampu memberikan informasi yang cukup bagi penelusur gua lainnya.
Sebuah peta gua tentunya juga memiliki tingkat akurasi yang berbeda-beda. Di dunia ada beberapa penilaian terhadap keakuratan tersebut, tergantung pada kesepakatan federasi masing-masing.
Saat ini, yang lazim digunakan di Indonesia adalah sistem grade yang digunakan di Eropa, yang memakai skala 1 sampai 6. Mengenai hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di tahap pendalaman.
Untuk mendapatkan informasi yang akan dituangkan ke dalam peta gua, ada beberapa prosedur pemetaan yang harus dilakukan. Sekilas prosedur-prosedur ini akan tampak merepotkan ketika mengeksplorasi sebuah gua, namun sebenarnya kerepotan tersebut akan terbalas dengan hasil yang nantinya kita dapatkan.
tabel 1. contoh Field Note
VI.2. Alat-alat perlengkapan pemetaan
1. Drafting film atau Kodak Trace sejenis kertas kedap air, seperti kertas kalkir tetapi lebih tebal dan kedap air juga bisa dihapus jika menggunakan alat tulis pinsil.
2. Topofil, alat untuk mengukur jarak antara stasiun. Kalau tidak ada dapat juga dipakai rollmeter.
3. Alas tulis dan alat tulis (pinsil, penghapus, dan serutan)
4. Kompas, alat untuk mengukur sudut deviasi atau azimuth. Biasanya kompas Silva atau Suunto yang digunakan.
5. Clinometer, alat untuk mengukur kemiringan gua (turun atau naik) Suunto PM5/360 adalah Clinometer yang terbaik.
gambar 15. contoh simbol peta gua
VI.3. Prosedur Pemetaan
Prosedur pemetaan yang dimaksud disini adalah teknis pengambilan data untuk menghasilkan sebuah peta gua, data-data tersebut akan dicatat di sebuah catatan lapangan untuk kemudian diterjemahkan. Secara garis besar, pengambilan data dilakukan dengan membuat bentukan kasar gua yang dieksplorasi, dengan cara mengambil beberapa titik untuk dijadikan sebagai stasiun. Di stasiun-stasiun tersebutlah data-data direkam, diantaranya arah lorong, ketinggian lorong, kemiringan antara stasiun, tinggi langit-langit gua, lebar lorong dan keterangan lainnya.
Pemetaan dapat dilakukan oleh minimal dua orang, dimana satu orang menjadi leader yang memegang ujung alat ukur dan menentukan posisi stasiun, sementara orang kedua menjadi pencatat data yang memasukkan data ke dalam field note.
Leader, adalah orang yang berhak menentukan posisi stasiun. Satu titik dapat dijadikan stasiun karena beberapa sebab yaitu;
- Lorong yang dieksplorasi berubah arah
- Leader sudah tidak dapat terlihat oleh orang kedua
- Terdapat kemiringan yang ekstrim
- Terdapat perubahan bentukan lorong yang ekstrim
- Terdapat ornamen yang unik
- Jarak dengan stasiun terakhir sudah menjadi jarak maksimal untuk membuat peta dengan grade tertentu.
Satu hal yang mutlak diperhatikan adalah bahwa posisi leader harus masih terlihat oleh pencatat data. Contoh catatan lapangan Keterangan : STS; Adalah nama stasiun, dapat dinamakan sesuai kehendak, misalnya A-B,B-C, atau 1-2,2-3, dll. Jarak; adalah jarak antara stasiun yang satu dengan yang lainnya Azim.; adalah sudut yang ditunjukkan oleh kompas antara satu stasiun dengan stasiun disepannya Clino; adalah derajat kemiringan antar stasiun, biasanya + apa bila stasiun didepannya lebih tinggi, dan – bila stasiun didepannya lebih rendah. Kanan dan Kiri; adalah jarak dari poros orang ke dinding gua kanan dan kiri. Atas dan Bawah; adalah Tinggi dan kedalaman gua. Keterangan; diisi dengan hal-hal khusus yang ditemui, seperti ornamen yang unik, keterangan mengenai bentukan lorong, dll
Selain itu dalam pemetaan, pencatat data juga membuat sketsa lorong dan irisan stasiun yang akan memudahkan pembuatan peta gua. VI.4. Cara Kerja
1. Stasiun A biasanya pada mulut atau pintu masuk gua. Di sini berdiri pencatat data yang membawa kompas, clinometer dan catatan lapangan.
2. Leader membawa topofil atau rollmeter (ujung benang atau pita meter dipegang oleh Pencatat data) hingga tempat yang dianggap sebagai stasiun B
3. Pencatat data mencatat hasil pengukuran panjang, azimuth, clino juga mencatat lebar kiri dan kanan lorong pada stasiun A pada lembar catatan lapangan.
4. Pencatat data juga membuat sketsa denah lorong gua antara stasiun A dan stasiun B. Pekerjaan ini dapat dibantu dengan adanya benang atau pita meter yang memanjang antara stasiun A dan stasiun B. Pintu masuk juga dibuat denah dan irisannya.
5. Rekam dan catat juga atau ploting pada sketsa jika dijumpai hal-hal yang istimewa atau khusus, seperti adanya stalagmit yang besar atau adanya aliran air, flowstone, dsb.
6. Selanjutnya pencatat data menuju stasiun B dan surveyor 2 menuju stasiun C dan kembali melakukan pengukuran, pemetaan dan pembuatan sketsa denah.
7. Pada prakteknya dapat dilakukan bergantian
8. Jangan lupa membuat gambar potongan / irisan dari lorong-lorong tertentu atau khusus. VI.5. Menyalin data lapangan menjadi sebuah peta gua
Langkah pertama yang harus dilakukan di tahap ini adalah menyalin kembali data lapangan sesegera mungkin, karena catatan lapangan kita pasti akan kotor, dan kemungkinan tidak jelas terbaca.
Kemudian kita membuat peta gua kasar di kertas milimeter block. Data Azimuth, Kanan, kiri dan jarak akan berguana dalam membuat Penampang atas atau denah, sementara data kemiringan, atas dan bawah akan berguna untuk membuat irisan atau penampang samping.
Setelah itu, kita dapat menyalin draft peta yang telah kita buat ke kertas kalkir, dan kemudian ditambahkan kelengkapan-kelengkapan lainnya.
gambar 16. contoh peta gua
VI.6. Hambatan
Berbeda dengan pembuatan / survey pemetaan yang biasanya dilakukan di tempat terbuka, maka pemetaan gua sepenuhnya dilakukan di dalam gua, jauh di bawah muka bumi. Kondisi gua yang pastinya gelap total, hanya ada penerangan lampu karbit yang terbatas cahayanya, belum lagi lantai gua yang penuh lumpur, ruangan yang sempit, dan waktu yang terbatas dimana kita tidak dianjurkan lupa waktu di dalam gua. Tetapi itu semua bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan pemetaan gua, lebih-lebih bagi mereka yang mengaku sebagai ‘caver’. Yang ingin digarisbawahi di sini adalah bahwa apapun kondisinya seorang caver wajib membuat peta gua di dalam eksplorasinya, khususnya gua-gua yang belum dipetakan.